Friday, May 31, 2013

Maafkan Aku, Kekasihku !!!

Ruangan kelas yang  begitu luas entah kenapa hari ini terasa sempit sekali. Aku tak tahu kenapa sampai berpikiran seperti itu. Dadaku terasa sesak, rasanya sulit untuk bernafas. Aku mencoba untuk tetap tenang tapi tetap saja sia-sia. Satu hal yang ada dalam pikiranku sekarang, Ridho. Cowok genius , tampan, putih, berambut agak keriting itu yang membuat aku gelisah. Aku merasa kaku berada dikelas, tak seperti biasanya. Ocehanku tak lagi terdengar. Teman-temanku dari tadi terus bertanya kenapa aku jadi pendiam seperti ini. Aku hanya tersenyum dan menjawab kalau kondisi badanku lagi gak fit.Ridho yang tempat duduknya tak jauh dariku seakan-akan terus memperhatikanku. Aku tak tahu yang aku rasakan ini benar atau hanya suggesti saja, yang pasti aku sangat gelisah.
Aku kembali teringat kejadian sebulan yang lalu pada saat jam istirahat. Seperti biasanya aku dan teman-temanku pergi ke kantin, termasuk salah satunya Ridho. Kami semua memang berteman dekat terutama dalam hal kelompok belajar. Kami beranggotakan enam orang. Gilar, Indra, Tio, Ridho, Dini, dan aku Shindy. Walaupun kami tidak bersahabat dekat dan cuma dekat dalam hal kelompok belajar tapi kami cukup akrab.  Setelah pulang dari kantin kami berenam pergi ke lab biologi untuk menanyakan tugas yang harus dikumpulkan minggu depan kepada Pak Tono guru biologi kami. Kebetulan Pak Tono sedang sibuk membereskan peralatan-peralatan bekas praktek anak-anak kelas X. Melihat kami semua menghampirinya, beliau kemudian meminta bantuan kami. Kami pun membantunya. Kemudian Pak Tono meminta Gilar, Indra, Tio, dan Dini membantunya membawa peralatan-perlatan praktek  yang sudah tidak terpakai ke gudang, sedangkan aku dan Ridho membereskan peralatan di lab. Mereka pun pergi ke gudang tinggal aku dan Ridho yang tetap diam di lab. Setelah semuanya beres, Ridho kemudian menghampiriku.
“Sin, boleh ngomong sesuatu gak?”tanyanya sambil gugup.
            “Iya, ada apa dho? Kalo materi yang kamu tugasin kemarin udah beres kok,tinggal di bahas sama yang lain.”
“Hmmmph...bukan,ini soal kita.”
“Soal kita???”tanyaku bingung.
            “A...aa...aaakku sayang sama kamu Sin!”
“Apa???Kamu ngaco ah. Sejak kapan kamu jadi suka bercanda kaya gini. Biasanya kamu selalu serius, kenapa sekarang jadi ngajak bercanda. Teorema Phytagoras bikin kamu jadi aneh kaya gini ya, kebanyakan gaul sama matematika sih?” kataku sambil tertawa.
“Aku serius Sin, sangat serius malahan. Aku sudah lama suka sama kamu, tapi aku tak punya keberanian untuk mengatakannya. Aku terlalu takut, takut kalau kamu tahu kamu akan menjauh dariku. Baru sekarang aku berani mengatakannya, aku sangat mencintaimu Sin. Aku suka semua yang ada dalam diri kamu. Senyum kamu, mata kamu, kebaikan kamu dan semua hal yang aku tak tahu lagi kata apa yang dapat mendeskripsikannya.”
Aku terdiam mendengar ucapan Ridho. Aku melihat kejujuran dan ketulusan dimatanya. Seluruh aliran darahku terasa berhenti, jantungku berdetak lebih kencang, tanganku terasa dingin. Aku ingat beberapa waktu lalu Tio pernah bilang kepadaku kalau Ridho suka sama aku. Tentu saja aku tidak percaya. Cowok tengil  kaya Tio mana mungkin bicara serius. Lagipula aku tak melihat tanda-tanda kalau Ridho menyukaiku. Perlakuan dia terhadapku sama seperti ke teman-teman yang lain. Dan sekarang aku benar-benar mendengarnya langsung dari Ridho. Apa aku harus percaya? Jujur ada perasaan senang ketika Ridho mengatakan semua itu karena aku memang punya perasaan lebih terhadanya. Tapi aku tak boleh membiarkan perasaan itu tumbuh menjadi besar karena aku punya pacar, Ega. Yah, Ega adalah pacarku.
“Dho, kamu sendiri tahu kan sekarang aku punya pacar. Aku baru jadian tiga hari yang lalu. Aku gak mau merusak kebahagiaan yang baru saja hadir dihidupku, terutama kebahagiaan Ega. Satu hal yang aku sesalkan saat ini, kenapa kamu gak jujur dari awal. Jujur sebelum Ega hadir dalam hidup aku. Jujur dho, akupun punya perasaan yang sama, aku sayang sama kamu. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Aku punya Ega, aku harus sepenuhnya memberikan perasaan aku buat dia. Sekarang aku sedang berusaha mengubur perasan aku ke kamu. Aku harap kamu ngerti.”
“Iya, aku tahu Sin. Dan aku tak peduli itu. Aku sangat menyayangimu dan aku akan membahagiakanmu. Please, Sin..jangan kubur perasaan itu. Biarkan perasaan itu tumbuh diantara kita. Aku janji cukup kita yang tahu”
Entah setan apa yang merasuki pikiranku sehingga aku menerima cinta Ridho. Ridho mengecup keningku dan memegang tanganku erat. Ada perasaan nyaman ketika aku didekatnya. Yah, aku mencintainya.
Tanpa aku sadari, aku telah menyakiti seseorang yang juga tulus mencintaiku. Aku berlaku tak adil, begitu egoiskah aku? Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa aku tak dapat berpikir panjang. Tak seharusnya aku menyakiti Ega. Aku termenung, hatiku berbisik “maafkan aku Ega”.
Setelah kejadian itu hari-hariku merasa tak tenang. Aku terus diliputi rasa bersalah. Ega pun melihat perubahanku. Dia selalu bertanya tentang keadaanku yang menjadi aneh, dan aku tak berani jujur. Aku berusaha sebisa mungkin menutupi kesalahanku dari Ega. Seperti yang aku tau, Ega tak pernah mengeluh dengan perubahanku, dia tetap mencintaiku.
Bel istirahat berbunyi. Teman-teman sekelasku berhamburan keluar, tinggal aku yang diam di kelas. Aku tak merasakan lapar diperutku. Kemudian Ridho menghampiriku.
“Sin, kamu kenapa sich dari tadi kelihatannya gelisah terus?lagi ada masalah?cerita dong! Jelek tau, jangan cemberut terus.”tanya Ridho sambil memegang tanganku.
“Aku akan mengambil keputusan sekarang.”jawabku sambil berusaha melepaskan tangannya dari tanganku.
“Maksudnya???”
“Aku ingin kita akhiri semua ini. Aku gak mau ada kebohongan lagi. Kamu tahu selama ini aku gak pernah tenang menjalani hubungan ini? Ada orang yang tersakiti oleh hubungan kita. Aku gak mau terus menyakiti Ega.”
“Jadi, kita akan meresmikan hubungan kita secara utuh?”Ridho berkata dengan mata yang berbinar-binar.
“Bukan itu maksudku. Aku ingin kita mengakhiri hubungan kita.” sahutku sambil menunduk.
Aku tak berani menatap Ridho. Rasa sayang yang berusaha aku kubur takut tak bisa hilang apabila aku menatap matanya.
“Sin, aku tahu kamu masih sangat mencintaiku. Kenapa kamu membohongi perasaan kamu sendiri, please jangan lakukan ini padaku?”kata Ridho sambil berusaha memegang tanganku kembali.
“Keputusankku sudah bulat. Terlalu picik aku terhadap Ega, dia tak pantas untuk aku sakiti. Aku ingin membahagiakannya. Sekarang aku baru sadar,aku hanya mengagumimu. Kamu terlalu sempurna buat aku. Maafkan aku dho, masih banyak orang di luar sana yang lebih baik dari aku dan tentu bisa membahagiakanmu.”
“Aku tak tahu apakah ada hal yang bisa merubah keputusannmu. Ini mimpi, aku berharap ini hanya mimpi. Tapi  sayangnya ini kenyataan, aku harus bisa menerimanya. Aku mencintaimu, aku ingin melihat kamu bahagia. Jika bukan aku yang bisa membahagiakanmu ,aku rela”jawab Ridho dengan wajah yang seolah menutupi kesedihannya.
“Aku tak akan pernah melupakanmu, kamu akan tetap aku kenang sebagai seseorang yang pernah berarti dalam hidupku dan kuharap ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua”kataku sambil memeluknya.
“Yah...”jawabnya singkat.

            Aku pergi meninggalkan Ridho sendirian dikelas. Aku hendak menghampiri Ega di kelasnya. Akan aku tebus segala kesalahan-kesalahanku padanya. Sebelum aku keluar, aku kembali menatap Ridho.
            “Kamu tetap jadi sahabatku kan??”tanyaku.
“Tentu...”sahut ridho yang tetap berusaha tersenyum.
            Dari kejauhan aku melihat Ega berdiri di depan ruang kelasnya. Aku berlari menghampirinyadanlangsung memeluknya erat, tak peduli orang-orang disekitarku melihat adegan ini. Kubisikan sesuatu ke telinga Ega.
“Maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, sayang”.

Rasa Yang Tertinggal



“Mah, bendera semaphore Riri mana?”tanyaku buru-buru.
“Koq nanya mamah, minggu kemarin bekas latihan, kamu simpan dimana?coba ingat-ingat lagi.”
“Oh, iya. Aku baru ingat. Benderanya dikumpulin di basecamp pramuka sekolah.”kataku sambil mengingat-ingat.
“Ya udah. Sekarang kamu cepat pergi ke sekolah. Bukannya kamu harus cepat-cepat latihan pramuka?”
            “Iya mah, Riri udah telat nih. Assalamualaikum.”
            Aku bergegas pergi menuju sekolah untuk mengikuti ekskul pramuka. Aku terburu-buru karena sudah terlambat. Setiba di sekolah aku segera pergi ke lapangan menuju teman-temanku yang sudah berkumpul.
            “Tumben Ri telat?”Tanya Tari.
“Iya, tadi nyari-nyari bendera semaphore dulu. Aku lupa kalau benderanya dikumpulin.”jawabku.
            “Nich benderanya Rie!” kata Tari sambil menyodorkan bendera kepadaku.
            Tak lama pembina pramuka pun datang untuk melatih kita semua. Untuk pertemuan sekarang kita semua berlatih semaphore. Akhir-akhir ini aku semakin sibuk dengan kegiatan ekskulku ini karena sebulan lagi akan diadakan Jambore Nasional. Kebetulan, aku dan sembilan teman lainnya menjadi utusan dari sekolah untuk mengikuti jambore nasional. Setelah selesai berlatih, pembina kami akan mengadakan tes kemampuan semaphore secara kelompok. Setiap kelompok dibagi lima orang. Teman-teman kelompokku adalah Tari, Resa, Dhika, dan Yogi. Setelah membagi kelompok, kami pun diberi kesempatan untuk bersiap-siap dengan kelompok masing-masing. Ketika sedang berkumpul dengan kelompok, aku merasa ada yang aneh dari diri Dhika. Dia selalu menghindar setiap ada aku, tetapi aku berusaha biasa-biasa saja terhadap dia.
            Hari demi hari telah dilalui. Setiap bertemu Dhika, selalu saja aku merasa ada yang aneh. Dhika tak seperti biasanya, selalu saja Dhika kelihatan canggung ketika bertemu dengan aku.
            “Ri, ke kantin yuk?” kata Tari pas jam istirahat.
            “Nggak agh, kamu duluan aja, lagi males keluar nih.”jawabku.
            Akupun duduk sendiri di bangkuku. Dari tempat dudukku, aku melihat Roni sedang berbincang-bincang dengan kakak kelaskku. Setahukku dia bernama Juan. Entah kenapa aku sangat suka setiap melihat Juan. Dia begitu tampan. Mungkin itu yang tersirat dipikiranku setiap melihatnya. Juan memang selalu datang ke kelasku setiap jam istirahat. Dia selalu menemui Roni, teman se-gengnya. Ada perasaan suka setiap aku melihatnya. Tapi aku tak berani mengungkapkannya Aku hanya berani menatapnya dari kejauhan. Itulah salah satu alasanku untuk tidak pergi ke kantin. Aku pun selalu berpura-pura berpaling setiap Juan tiba-tiba menoleh kepadaku.  
            Sore harinya aku kembali mengikuti ekskul pramuka. Makin hari jadwal latihanku semakin padat. Setelah pulang latihan tiba-tiba Yogi menghampiriku. Dia menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan bilang surat tersebut dari Dhika. Sesampainya dirumah, perlahan kubuka surat itu dan mulai membacanya. Aku terkejut setelah membaca surat itu, ia mengatakan kalau ia menyukaiku, dia mulai jatuh cinta terhadapku. Kemudian, aku membalas surat itu. Aku meminta Dhika agar menunggu jawabanku seminggu lagi. Setelah kejadian itu, Dhika selalu menunjukan perhatiannya setiap hari. Setiap berangkat sekolah dia selalu menjemputku dan mengantarkanku pulang setiap pulang sekolah.
            Seminggu kemudian, ketika jam istirahat, Dhika mengajakku bertemu di taman sekolah. Dhika akan meminta jawaban atas suratnya seminggu yang lalu. Aku pun segera menemui Dhika. Sesampainya di taman aku melihat Dhika sudah menunggu disana dan aku segera menghampirinya. Aku berpikir kalau aku akan menerima Dhika menjadi  pacarku. Aku juga melihat Dhika serius kepadaku. Kembali ku teringat Juan, kakak kelas yang aku sukai. Aku pun merasa cintaku pasti bertepuk sebelah tangan. Tak ada tanda-tanda kalau Juan menyukaiku. Aku tak mau bermimpi terlalu jauh, ada seseorang yang benar-benar mencintaiku sekarang. Kuutarakan perasaanku sekarang.
            “Gimana Rie ?”tanya Dhika dengan penuh harap.
            “Yah, aku mulai mencintaimu!” jawabku.
            Bel tanda istirahat sudah usai pun berbunyi. Kulihat senyum bahagia terukir di wajah Dhika setelah mendengar jawabanku. Aku berharap semoga ini menjadi pilihan terbaik untukku. Bahagia bersama orang yang mencintaiku. Kemudian kami pun segera pergi ke kelas masing-masing. Ketika tiba di pintu kelas, Juan memanggilku. Dia meminta supaya aku untuk menunggunya saat pulang sekolah nanti. Aku menatapnya heran. Ada apa Juan memintaku menunggunya nanti.  Kuanggukan kepalaku tanda setuju.
            Jam pelajaran terakhir pun berakhir. Kembali ku teringat janjiku kepada Juan. Perlahan satu persatu anak-anak di kelas pun pulang tinggal aku sendirian di kelas. Tak lama Juan datang menghampiriku. Dia pun duduk di sebelahku.
            “Ada apa kak, tumben nyuruh nungguin?”tanyaku heran.
            “Ada hal penting yang harus aku omongin”jawabnya gugup.
            “Apa?”kataku
“Aku tak bisa terus begini. Tersiksa menahan sesuatu yang sudah lama aku pendam. Aku mencintaimu Ri. Dari dulu, sejak pertama aku melihatmu. Tak ada keberanian untuk mengungkapkannya. Setiap istirahat aku selalu datang ke kelas ini hanya untuk bisa melihatmu, melihat senyummu ”ungkapnya.
            Perasaan tak karuan kurasakan saat ini. Baru istirahat tadi aku menerima Dhika menjadi pacarku. Sekarang, orang yang selama ini aku sukai menyatakan persaannya. Apa yang harus aku lakukan. Ku lihat dari kejauhan Dhika menuju kelasku. Aku bangkit dari tempat dudukku.
“Orang yang telah mengisi hatiku sudah menjemputku kak” kataku sembari meninggalkannya.

Dasar Muka Tebal

 “Iya, Reski kakak kelas kamu. Waktu itu aku kelas tiga SMA dan kamu kelas satu” katanya di ujung telepon sana.
            “Oh iya,aku baru ingat. Aku pernah lihat kamu. Temannya Indra kan? Teman sekelasku?” aku mencoba mengingat-ingat.
Saat itulah Gian pertama berkenalan dengan Reski. Reski sengaja menelponnya untuk berkenalan. Entah apa maksud sebenarnya, tapi waktu itu Reski hanya mengatakan kalau dia tertarik untuk menjadi teman Gian. Hanya untuk sekedar menambah teman katanya dan Gian memang sosok orang yang terbuka untuk menerima pertemanan dari siapapun.
            Sejak saat itu Gian mulai dekat dengan Reski. Tiap hari selalu saja ada komunikasi diantara mereka, baik sms atau telepon. Gian mulai mengenal sosok Reski. Sosok yang baik, perhatian dan jago membuat Gian ketawa. Saat itu Gian merasa nyaman bisa berteman dekat dengan Reski, walaupun komunikasi diantara mereka hanya sebatas telepon, karena mereka tidak pernah bertemu sejak dari awal mereka berkenalan. Dan kenyataan pada saat itu, mereka masing-masing sudah mempunyai pacar. Selingkuh??? Kayanya bukan, mereka hanya berteman dekat. Sangat dekat tepatnya.
            Reski adalah mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi swasta di Bandung. Dia kakak kelas Gian waktu masih SMA. Sedangkan Gian seorang siswi kelas dua SMA. Ketertarikan Reski kepada Gian berawal pada saat ia sedang bemain ke sekolahnya dulu pada saat ada acara Pensi. Disana Gian menjadi ketua panitia kegiatan tersebut. Entah kenapa ada perasaan aneh yang hinggap di hati Reski ketika melihat Gian. Untuk itu ia meminta nomor telepon Gian kepada Indra, temannya Gian.
             Sejak saat itu Reski selalu menghubungi Gian. Mereka saling berbagi cerita. Rasanya ada yang kurang kalau mereka tidak saling menghubungi. Sampai pada suatu ketika Reski menyatakan cintanya kepada Gian. Reski merasa kalau selama ini perasaannya kepada Gian bukan hanya sekedar kepada teman biasa tetapi lebih. Mendengar hal itu sontak membuat Gian kaget. Sebenarnya Gian sendiri bingung terhadap perasaannya kepada Reski, ia juga merasa telah jatuh hati terhadapnya. Tapi pada saat itu Gian memutuskan untuk tidak menerimanya dengan alasan diantara mereka masing-masing sudah mempunyai pasangan. Setelah kejadian itu perlahan komunikasi diantara mereka mulai renggang. Reski sudah jarang menghubungi Gian lagi. Entah karena sakit hati atau apa. Gian pun tak berani menghubungi Reski.
            Beberapa bulan kemudian Reski menghubungi Gian kembali. Dia mengatakan kalau menghilangnya dia selama ini karena ingin menjauh untuk mencoba melupakan Gian. Dia menyadari dulu cintanya kepada Gian tak seharusnya ada. Reski pun mengatakan kalau sekarang hubungan dia dengan kekasihnya sudah berakhir, dan ternyata Gian pun sekarang sudah melajang, setelah putus dengan kekasihnya juga. Ada perasaan senang diantara keduanya melihat kenyataan tersebut. Mereka kembali menjalin komunikasi. Hubungan mereka makin erat setelah keduanya sama-sama melajang.
            Suatu ketika mereka pun memutuskan untuk saling bertemu. Reski ingin menunjukan keseriusannya kepada Gian. Reski pun berkunjung ke rumahnya Gian. Disana Reski menyatakan kembali cintanya kepada Gian. Dan akhirnya Gian pun menerima cintanya Reski. Hubungan mereka awalnya memang sangat baik. Mereka sangat bahagia sebagaimana pasangan yang baru saja jadian. Tetapi dua minggu kemudian Gian merasa ada yang berubah dari Reski, Reski tak perhatian lagi terhadapnya. Komunikasipun tak berjalan seperti biasanya. Sampai akhirnya Gian pun mendapat sms dari Reski yang isinya Reski memutuskan hubungan dengannya. Reski beralasan kalau dia masih mencintai mantannya. Mendengar hal tersebut Gian sangat terpukul. Ternyata selama ini Reski memang tidak benar-benar mencintainya, ia hanya dijadikan pelarian saja. Akhirnya hubungan diantara mereka pun berakhir. Gian sudah tidak ingin lagi mempunyai kedekatan dengan Reski. Tapi nyatanya beberapa minggu kemudian Reski kembali menghubungi Gian dan meminta maaf atas kesalahannya dulu. Gian sendiri sudah tidak ingin mempermasalahkannya lagi, ia sudah melupakan kejadian itu. Sakit hatinya pun sudah ia kubur dalam-dalam. Tak disangka-sangka Reski kembali meminta Gian untuk menjadi kekasihnya. Gian merasa hal ini sangat konyol. Dalam hatinya ia berpikir lelaki seperti ini tak bisa di beri hati lagi, ia datang dan pergi seenaknya. Semenjak kejadian ini Gian tak pernah lagi membalas sms ataupun telepon dari Reski sekalipun Reski memohon-mohon untuk mengharapkannya kembali.